Thursday, August 31, 2006

Perjalanan Waktu

Waktu semakin cepat berlalu dan aku sangant membencinya, aku kecewa, rindu ini masih terlalu tebal, aku masih ingin bersamamu, Aku masih ingin menatap wajahmu yang lembut, candamu yang manja tapi waktu memang sangat berkuasa tak ada satupun yang mampu mencegahnya

Ia tak pernah tau rinduku, ia tak pernah tau kesedihanku meninggalkannya, ah dasar waktu.

Pagi yang cerah namun tidak hatiku semua barang telah aku siapkan sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan kota ini meninggalkanmu untuk kembali memupuk rindu dan kasih yang senantiasa terjaga dengan kepercyaan yang tiada batas.

Suara bising mesin mobil semakin membuat kecut hatiku, aku tak mampu menutupi kegetiran hati ini, ku cabut dompetku ku keluarkan selembar foto usang yang selalu mejaga semangat hidupku

“Ah….Kau kapan aku akan selalu disampingmu”

Sebntar lagi aku berangkat semua keluargaku sudah menunggu didepan, tapi mana Gadis pujaanku apakah ia tak sanggup melepas kepergianku, ah……mana mungkin aku tau ia Gadis yang tegar bukan sekali ini aku harus meninggalkannya demi tugas Negara atau entah untuk kepentingan siapa aku tak tahu aku hanya menjalankan tugas.

Satu persatu pelukan hangat merengkuh dihatiku mengucapkan selamat bertugas.” puuuuhhhh…….aku benci mendengarnya”
Hatiku semakin gelisah Mana Email biasa aku memanggilnya dalam surat yang ku kirim sebulan sekali di tempat tugasku.

Ah sudahlah mungkin kali ini Dia benar benar tak rela melepasku aku mengerti kalau Ia sampai keras kepala dan selalu memintaku berhenti dari pekerjaanku yang penuh resiko.

Aku mengerti.aku benar benar mengerti. Selangkah lagi kakiku memasuki pintu Mobil Dinas.tapi ku urungkan ketika sebuah suara merdu yang khas ya khas karena memang hanya dia yang memanggilku dengan sebutan itu.tanpa menoleh ke arah suara aku sudah tersenyum bahagia yah dia lah Gadisku.

Tanpa berkata apapun karena memang sudah tak sanggup berkata apa apa Ia lari dan menghambur ke pelukanku pelukan yang selalu kunantikan.Tanpa kata Ia melepaskanku hanya tatapan tak rela terlihat jelas dimatanya yang sembab. Aku tak sanggup menatapnya kubenamkan semuanya dipelukannya ”Ma`af kan Aku”.

Empat bulan sudah aku meninggalknnya dan kini saatnya aku mengabarinya untuk yang keempat kalinya, mengabarkan bahwa aku masih Rindu , bahwa aku masih sayang aku ungkapkan semua isi hatiku, aku khawatir bulan depan tak bisa mengabarinya.

Yah…..bulan depan operasi besar besaran menyerbu markas besar pemberontak yang sudah diintai enam bulan yang lalu,
Meski aku selalu didik untuk tidak takut mati karena mati membela Negara adalah sebuah kebanggan besar bagi prajurit sepeti aku, dan tentu nama pahlawan akan aku sandang meski aku sudah tidak lagi hidup tapi kalau aku boleh memilih lebih baik tak ada pahlawan kalau harus ada perang entah kepentingan siapa yang aku bela entah siapa yang benar aku sudah tidak lagi memikirkan itu.

Yang ada dibenakku hanyalah segera menyelesaikan tugasku dan kembali ke kampung halamanku dan selalu beada di sampingnya.

Sabtu 15 Maret 1990 jam dua lewat tiga puluh menit di Kamp aku sudah siaga bersama dengan sekitar 1000 tentara yang lainnya.
Debaran jantungku semakin kencang yang ada di benak kami akankah
Mentari esok masih bisa kami lihat.semua sudah bersiap semua bergerak menyusuri hutan gelap seperti ribuan Ular yang di tebar mencari tikus

Sabtu 15 Maret 1990 jam tiga lewat dua puluh lima menit letusan suara peluru berbunyi membabi buta sesekali dentuman granat terdengar menusuk telinga, membuat kami mulai kencang memanjatkan do`a.

Sabtu 15 Maret 1990 jam Empat lewat empat puluh delapan menit aku tak bisa melihat apa apa semuanya gelap, gelap sekali aku tak lagi mendengar desingan suara peluru, dentum granat yang suaranya menggelegar amat sombong pun tak aku dengar, aku sendiri aku tak melihat satupun teman temanku apakah perang sudah usai apakah mereka sudah berhasil dilumpuhkan.

Setelah sekian lama bahkan menunggu berhari hari aku baru menemukan jawabnya aku tau.aku tau setelah tak satupun keluargaku yang menoleh ketika aku panggil mereka hanya menangis kenapa mereka tak mendengar aku, aku bahkan tak bisa menyentuhnya.
Sebuah jawaban pasti aku temukan saat aku melihat sesosok bayanganku terbaring dengan mata tertutup semua badanya diselimuti kain putih hanya wajahnya yang tidak,.hidungnya, telinganya disumpal kapas.

Semua orang disekitarnya tak ada yang berkata selain hanya menangis Aku pun sedih Melihatnya

Tapi aku lebih sedih ketika aku melihat Gadis pujaanku menangis seperti menyesali suratan, sebuah resiko yang teramat sangat Ia takuti akhirnya menjadi kenyataan. Ingin sekali aku memeluknya lagi, mendekapnya didadaku, ingin ku katakan semua sudah terjadi, tak perlu disesali.

Banda Aceh 15 Maret 1990

1 comment:

Memoar Anak Negeri said...

Keep posting Kang Ari..
SUkses berkarya terus..
dan jangan pernah berhenti berkarya..
mumpung kita masih punya ide.