Tuesday, July 16, 2013

KISAH SEPATU ENI

Susana di sebuah kantor klinik kanker siang itu sangat ramai, meski sudah dilengkapi dengan 4 pendingin berkekuatan masing-masing 2 PK tetap saja tidak membuat nyaman, mungkin karena situasi itulah Eni (Yang katanya korban) seorang admint yang baru bekerja sekitar 3 bulan sampai lupa kalau dia pakai sepatu, kedua sepatunya tercecer kemana-mana, yang satu ada dibawah kursi tunggu pasien, yang satunya lagi tergeletak di dekat pintu ke arah ruang apparel (Bagi yang pernah ke klinik ini pasti tau, apalgi karyawannya) Eni sendiri sedang sibuk melayani pasien, dia duduk dengan kedua kaki dilipat ikut naik ke atas kursi, (biar simple, bayangin duduk gaya cewek diatas kursi)

Ari (Terdakwa) yang saat itu hendak beres-beres di ruang admint, namun berubah pikiran begitu melihat sepatu Eni tergeletak, timbul ide isengnya, dia lalu mengambil sepatu Eni, Ari kemudian menyembunyikan sepatu Eni di dalam kontener apparel yang tersusun rapi diruang apparel, dari proses mengambil sampai menyembunyikan sepatu, Yuni (rekan korban, red) mengetahuinya (terlibat-1), namun bukannya melarang dia malah senyam senyum, dalam hal ini Ari mengartikannya sebagai ya alias mendukung (Baca edisi diam itu emas, tentang proses lamaran).

Letak kontainer apparel itu sendiri ada di ruang apparel yang ditunggui kepalanya, Ninik.  Dan  dia juga mengetahui proses menyembunyikan sepatu itu (Terlibat-2). Selain Ninik ada anaknya juga disitu, Icha (Innocent-1) dan Cahya (Innocent-2) serta beberapa pasien dan keluarganya (Abaikan saja ga ada kaitannya).

Setelah sekian lama (hampir 4 jam) Eni berniat untuk shalat ashar, namun dia kaget bukan kepalang ketika dia menyadari tak ada satupun sepatunya, setelah mencari kesana-kesini serta bertanya pada siapa saja yang ditemuinya, akhirnya ada salah satu keluarga pasen yang iba, dia lalu memberikan sepatu Eni yang tadi nyempil dibawah kursi ruang tunggu pasen, sambil berkata, “maaf saya hanya menemukan yang kiri”.

Entah karena tidak tega, atau ingin lepas dari masalah, Yuni akhirnya memberitahu dimana sepatu Eni disembunyikan, dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) Yuni dan Ninik bisa dijerat pasal; 56
1.      Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan
2.      Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana dan keterangan untuk melakukan kejahatan

Dan hukumannya juga tidak main-main :

Hukuman bagi pembantu berdasarkan pasal 57 (1) dikurangi 1/3 dari hukuman pokok kejahatan yang dibantunya. Jadi yang di jalainya hanya 2/3 hukuman pokok kejahatan yang dibantunya

Mengapa harus dikurangi 1/3 ?

Oleh karena perbuatan yang ditunjukkan/ sekadar memperlancar terjadinya kejahatan atau dengan kata lain, tujuan pembantu hanyalah sekedar memperlancar si pelaku melakukan kejahatanya. Bahkan, acapkali motivasi si pembantu lain bukan pada kejahatan tersebut”.

Pasal 57 (2) bila perbuatanya hukumanya diancam dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati, maka pembantu hanya dikenakan 15 tahun. (Lima belas tahun MasBro!!!)

Ancaman hukuman itulah yang melandasi kedua orang yang terlibat akhirnya memberi tahu dimana sepatu Eni disembunyikan.

Eni yang sudah emosi sampai ke ubun-ubun berniat membawa kasus ini ke meja hijau, namun dia berubah pikiran mengingat ribetnya proses hukum dinegeri ini, saat melapor ke polisi saja, minimal dua bungkus rokok harus disiapkan, itu baru proses awal jika ingin kasusnya cepat ditanggepin tentunya harus lebih banyak lagi amplop yang dikeluarkan. Masuk pengadilan dia harus bersaing gede-gedean setoran dengan terdakwa biar hakim ga miring mutusin vonis.

Eni membatalkan niatnya, namun dendamnya masih membara, dia putar otak biar dendamnya terbalas namun dengan budget yang minim, cara yang paling efektif dan tanpa resiko (Dijerat undang-undang) adalah dengan santet, karena undang-undang yang menjerat kejahatan santet masih dalam rancangan.

Eni langsung membuka situs jual beli online www.toko-klontongan.com, pada subforum supranatural beragam santet ada disana, seiring dengan semakin canggihnya teknologi, ada yang cukup dikirim dengan SMS, Video Call, ada yang lewat email, ada juga yang masih pake cara konvensional, lewat kilat khusus PT. Pos Indonesia (Persero). Eni mulai mencari santet yang paling murah, sayangnya imbas dari kenaikan BBM semua harga sudah melambung, untuk sekedar membuat perut mules aja tarif dipasang bisa nyampe dua jutaan.

Sebenarnya ada kenalan Eni yang berprofesi sebagai dukun santet, namanya Heni. Heni jebolan UNTET (Universitas Santet)  Banten. Dan bergelar S1 (Santet 1), sempat magang di Afrika Selatan, dan terlibat dalam pembuatan Harry Potter untuk film “Harry Potter and the Philosopher's Stone” yang dirilis tahun 2001, sebagai penasihat teknis, masuk dalam tim ahli santet yang akan studi banding ke eropa bersama Komisi III Bidang Hukum DPR ke eropa, dan sempat membuka kantor di Tangerang. Namun akhirnya pensiun karena kalah saingan. Dijaman canggih seperti sekarang, dimana dukun-dukun yang lain sudah memakai teknologi 3G untuk melihat calon korban, Heni masih menggunakan baskom berisi air.

Tapi Eni masih penasaran, dia mencoba menghubungi Heni lewat Whats App
Itulah screen shoot dari percakapan mereka berdua (lihat gambar 1.1).

Gambar 1.1
Heni ternyata bersedia menolong Eni, setelah terjadi tawar menawar harga, akhirnya disepakati harga deal sebesar 150 ribu rupiah, beras 2 liter, minyak goreng, sama gula pasir 1kg.

Heni pun segera mengumpulkan bahan-bahan untuk keperluan praktek, antara lain :

1.      Ayam Sayur ( Harusnya ayam cemani-ayam yg hitam semua, tapi karena anggaran terbatas diganti ayam sayur)
2.      Baskom berisi air
3.      Paku
4.      Kembang 7 Rupa
5.      Kemenyan
6.      Kain Putih


Heni segera mengambil pakaian kebesarannya berupa jubah hitam, ikat kepala yg juga hitam, dia masuk ke ruangan seukuran WC umum di Pom Bensin, agak gelap (Makin ga kelihatan aja) dan pengap. Segeralah mulutnya komat kamit membaca kalimat-kalimat, hanya dia yang tahu artinya.



Dalam waktu tak kurang dari 5 menit di dalam baskom berisi air, samar-samar terlihat sebuah kendaraan roda dua warna biru, lalu ia membungkus sebuah paku karatan (sepertinya bekas kusen pintu rumahnya yg jebol) dengan kain putih, ditaburi aneka kembang warna-warni lalu dicelpukan kesebuah mangkuk berisi darah (yap…anda benar itu darah ayam sayur), dalam sekejap paku menghilang entah kemana, hanya tersisa gulungan kain putih. Tapi tak lama kemudian tiba-tiba paku yang tadi hilang datang lagi dalam keadaan bengkok.


“Bangsat…..!!!!” Heni ngedumel
“Ilmu santet gw bener-bener ga nembus” masih ngedumel
“Bisa rusak reputasi gw kalo si Eni tau santet gw gagal” tetep masih ngedumel
Heni mencobanya sekali lagi kali ini dengan paku yang masih lumayan mulus, tapi hasilnya tetap sama dengan yang pertama, penasaran, Heni ganti dengan obeng, masih sama juga, diganti linggis, tidak juga tembus. 

Akhirnya Heni menyerah, ilmu santetnya ternyata sudah dicabut, karena nunggak bayaran semester, dalam perjanjian di kampusnya, jika dalam waktu enam tahun tidak melunasi seluruh tunggakan maka ilmu itu akan dicabut, sedangkan kalo dihitung rentang waktu dari Heni lulus sampai sekarang sudah 18 tahun.

“Gimana caranya biar gw ga malu” Heni mengernyitkan dahi, dia berpikir dan terus berpikir, teringatlah dia pada empat orang muridnya yang pernah magang dikantornya dulu, Dora, Iik, Qolby dan Putri.
Tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi keempat anak buahnya, Mereka sebenarnya sudah malas berhubungan dengan “mantan” gurunya itu, karena ujung-ujungnya pasti ga ngenakin, tapi karena merasa punya hutang jasa ketika Heni dulu menyantet Dosen Pembimbing sehingga semuanya lulus dengan nilai diatas rata-rata.

Meski dengan berat hati keempatnya menemui mantan gurunya itu, setelah menjelaskan persoalan yang dihadapainya, Heni merasa tidak mungkin misi dijalankan dengan jalan santet, misi harus dijalankan dengan jalan manual, maka disusunlah rencananya.

Rencananya sederhana, tinggal tancap paku ke ban motor Ari, beres. Untuk eksekutor Heni menunjuk Dora dan Putri, sementara Iik dan Qolby kebagian tugs untuk mengalihkan perhatian Satpam yang jaga di depan, setelah menghitung jam dan hari baik maka ditentukan hari eksekusi Selasa wage, jam 20.00 WIB tidak kurang tidak lebih.

Tapi rencana dengan praktek dilapangan kadang berbalik 180 derajat. Meski rencana sudah disusun begitu rapih, waktu eksekusi yang dijadwalkan jam 8 malem molor sampe jam 12 malem, penyebabnya siapa lagi kalau bukan Iik, jam delapan dia masih shopping di Mall, pulang dari Mall, mandi dan baru selesai mandi jam 11 malem, dandan, barulah jam 12 tim bergerak.

Begitu tiba didepan Iik dan Qolby ngajak ngobrol satpam sambil bawa kopi dan goreng singkong, sukses, perhatian satpam fokus pada goreng ubi dan kopi, sementara Dora dan Putri bergegas menuju TKP, nah masalahnya disini, tiba-tiba dari arah yang tak terduga datang Mbah (Lutfi) dengan motor antiknya, sontak keduanya kaget, Putri berinisiatif mengalihkan perhatian Mbah biar Dora bisa segera menjalankan eksekusi, Putri ngajak ngobrol sambil menggiring Mbah menjauhi TKP, sayang namanya Mbah emang agak lambat gerakannya, sementara Dora sudah tidak bisa konsentrasi (Untuk diketahui mata Dora hanya disetting bisa bertahan begadang sampai jam 10 malem, lewat dari itu, maka bisa-bisa dia tidur sambil jalan), sekuat tenaga dora menahan kantuk, begitu melihat Mbah sudah jauh dari TKP, dengan sempoyongan, Dora menghampiri sasaran, posisi motor sasarannya sendiri bersebelahan dengan motor Heni yang berwarna putih, dengan pandangan yang berkunang-kunang, sudah tidak bisa membedakan mana biru mana putih, Josss…..Dora berhasil menancapkan paku di ban motor, lalu dicabut lagi untuk menghilangkan barang bukti, ban motor pun kempes seketika, akhirnya selesai juga misi, pikir Dora. Dora lalu menghampiri teman-temannya, setelah agak jauh dari Satpam ketiga temannya yang penasaran bertanya.

“Udah, Dor?” Tanya Iik
“Dah beres, ayo kita tidur, dah ga kuat gw” jawab Dora
“Yakin lu ga salah sasaran?” Qolby sepertinya tidak yakin
“Nggaaa, gw yakin, bener kok” Dora menjawab sambil menutup mulut karena nguap
“Ok…seeeppp, misi kita selesai dan berhasil” timpal Putri

Pagi harinya Heni terbangun, dia bersiap-siap untuk pulang ke kontrakan, udah seminggu dia numpuk cucian, setelah mengemas barang dia bergegas ke parkiran motor.
Tiba-tiba terdengar jeritan kencang Heni dari arah parkiran, yang terdengerar hingga radius 5 KM-an

“Anak buah Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!, dari dulu kerjaannya ga ada yang beres”

Tangerang, 22 Mei 2013

Gambar 1.1
 
Terinspirasi ketika Eni kehilangan sepatu dan mengancam sayah akan mengempesi ban motor sayah, disaat bersamaan malah ban motor Heni yang kempes