Susana
di sebuah kantor klinik kanker siang itu sangat ramai, meski sudah dilengkapi
dengan 4 pendingin berkekuatan masing-masing 2 PK tetap saja tidak membuat
nyaman, mungkin karena situasi itulah Eni (Yang katanya korban) seorang admint yang
baru bekerja sekitar 3 bulan sampai lupa kalau dia pakai sepatu, kedua
sepatunya tercecer kemana-mana, yang satu ada dibawah kursi tunggu pasien, yang
satunya lagi tergeletak di dekat pintu ke arah ruang apparel (Bagi yang pernah
ke klinik ini pasti tau, apalgi karyawannya) Eni sendiri sedang sibuk melayani
pasien, dia duduk dengan kedua kaki dilipat ikut naik ke atas kursi, (biar
simple, bayangin duduk gaya cewek diatas kursi)
Ari
(Terdakwa) yang saat itu hendak beres-beres di ruang admint, namun berubah pikiran
begitu melihat sepatu Eni tergeletak, timbul ide isengnya, dia lalu mengambil
sepatu Eni, Ari kemudian menyembunyikan sepatu Eni di dalam kontener apparel
yang tersusun rapi diruang apparel, dari proses mengambil sampai menyembunyikan
sepatu, Yuni (rekan korban, red) mengetahuinya (terlibat-1), namun bukannya
melarang dia malah senyam senyum, dalam hal ini Ari mengartikannya sebagai ya
alias mendukung (Baca edisi diam itu emas, tentang proses lamaran).
Letak
kontainer apparel itu sendiri ada di ruang apparel yang ditunggui kepalanya, Ninik. Dan dia juga mengetahui proses menyembunyikan
sepatu itu (Terlibat-2). Selain Ninik ada anaknya juga disitu, Icha
(Innocent-1) dan Cahya (Innocent-2) serta beberapa pasien dan keluarganya
(Abaikan saja ga ada kaitannya).
Setelah
sekian lama (hampir 4 jam) Eni berniat untuk shalat ashar, namun dia kaget
bukan kepalang ketika dia menyadari tak ada satupun sepatunya, setelah mencari
kesana-kesini serta bertanya pada siapa saja yang ditemuinya, akhirnya ada
salah satu keluarga pasen yang iba, dia lalu memberikan sepatu Eni yang tadi
nyempil dibawah kursi ruang tunggu pasen, sambil berkata, “maaf saya hanya
menemukan yang kiri”.
Entah karena tidak tega, atau ingin lepas dari
masalah, Yuni akhirnya memberitahu dimana sepatu Eni disembunyikan, dalam Kitab
Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) Yuni dan Ninik bisa dijerat pasal; 56
1.
Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan
dilakukan
2.
Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana dan
keterangan untuk melakukan kejahatan
Dan hukumannya juga tidak main-main
:
Hukuman bagi pembantu berdasarkan
pasal 57 (1) dikurangi 1/3 dari hukuman pokok kejahatan yang dibantunya. Jadi
yang di jalainya hanya 2/3 hukuman pokok kejahatan yang dibantunya
Mengapa harus dikurangi 1/3 ?
“Oleh
karena perbuatan yang ditunjukkan/ sekadar memperlancar terjadinya kejahatan
atau dengan kata lain, tujuan pembantu hanyalah sekedar memperlancar si pelaku
melakukan kejahatanya. Bahkan, acapkali motivasi si pembantu lain bukan pada
kejahatan tersebut”.
Pasal 57 (2) bila perbuatanya
hukumanya diancam dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati, maka pembantu
hanya dikenakan 15 tahun. (Lima
belas tahun MasBro!!!)
Ancaman
hukuman itulah yang melandasi kedua orang yang terlibat akhirnya memberi tahu dimana
sepatu Eni disembunyikan.
Eni
yang sudah emosi sampai ke ubun-ubun berniat membawa kasus ini ke meja hijau,
namun dia berubah pikiran mengingat ribetnya proses hukum dinegeri ini, saat
melapor ke polisi saja, minimal dua bungkus rokok harus disiapkan, itu baru
proses awal jika ingin kasusnya cepat ditanggepin tentunya harus lebih banyak
lagi amplop yang dikeluarkan. Masuk
pengadilan dia harus bersaing gede-gedean setoran dengan terdakwa biar hakim ga
miring mutusin vonis.
Eni
membatalkan niatnya, namun dendamnya masih membara, dia putar otak biar
dendamnya terbalas namun dengan budget yang minim, cara yang paling efektif dan
tanpa resiko (Dijerat undang-undang) adalah dengan santet, karena undang-undang
yang menjerat kejahatan santet masih dalam rancangan.
Eni
langsung membuka situs jual beli online www.toko-klontongan.com,
pada subforum supranatural beragam santet ada disana, seiring dengan semakin
canggihnya teknologi, ada yang cukup dikirim dengan SMS, Video Call, ada yang
lewat email, ada juga yang masih pake cara konvensional, lewat kilat khusus PT.
Pos Indonesia (Persero). Eni mulai mencari santet yang paling murah, sayangnya
imbas dari kenaikan BBM semua harga sudah melambung, untuk sekedar membuat perut
mules aja tarif dipasang bisa nyampe dua jutaan.
Sebenarnya
ada kenalan Eni yang berprofesi sebagai dukun santet, namanya Heni. Heni
jebolan UNTET (Universitas Santet)
Banten. Dan bergelar S1 (Santet 1), sempat magang di Afrika Selatan, dan
terlibat dalam pembuatan Harry Potter untuk film “Harry Potter and the Philosopher's Stone” yang
dirilis tahun 2001, sebagai penasihat teknis, masuk dalam tim ahli
santet yang akan studi banding ke eropa bersama Komisi III Bidang Hukum DPR ke
eropa, dan sempat membuka kantor di Tangerang. Namun akhirnya pensiun karena
kalah saingan. Dijaman canggih seperti sekarang, dimana dukun-dukun yang lain
sudah memakai teknologi 3G untuk melihat calon korban, Heni masih menggunakan baskom
berisi air.
Tapi
Eni masih penasaran, dia mencoba menghubungi Heni lewat Whats App
Itulah
screen shoot dari percakapan mereka berdua (lihat
gambar 1.1).
![]() |
| Gambar 1.1 |
Heni
ternyata bersedia menolong Eni, setelah terjadi tawar menawar harga, akhirnya
disepakati harga deal sebesar 150 ribu rupiah, beras 2 liter, minyak goreng,
sama gula pasir 1kg.
Heni
pun segera mengumpulkan bahan-bahan untuk keperluan praktek, antara lain :
1.
Ayam Sayur ( Harusnya ayam cemani-ayam yg hitam semua, tapi karena anggaran terbatas diganti ayam sayur)
2.
Baskom berisi air
3.
Paku
4.
Kembang 7 Rupa
5.
Kemenyan
6.
Kain Putih
Heni
segera mengambil pakaian kebesarannya berupa jubah hitam, ikat kepala yg juga
hitam, dia masuk ke ruangan seukuran WC umum di Pom Bensin, agak gelap (Makin
ga kelihatan aja) dan pengap. Segeralah mulutnya komat kamit membaca kalimat-kalimat,
hanya dia yang tahu artinya.
Dalam
waktu tak kurang dari 5 menit di dalam baskom berisi air, samar-samar terlihat
sebuah kendaraan roda dua warna biru, lalu ia membungkus sebuah paku karatan
(sepertinya bekas kusen pintu rumahnya yg jebol) dengan kain putih, ditaburi
aneka kembang warna-warni lalu dicelpukan kesebuah mangkuk berisi darah
(yap…anda benar itu darah ayam sayur), dalam sekejap paku menghilang entah
kemana, hanya tersisa gulungan kain putih. Tapi tak lama kemudian tiba-tiba
paku yang tadi hilang datang lagi dalam keadaan bengkok.
“Bangsat…..!!!!”
Heni ngedumel
“Ilmu
santet gw bener-bener ga nembus” masih ngedumel
“Bisa
rusak reputasi gw kalo si Eni tau santet gw gagal” tetep masih ngedumel
Heni
mencobanya sekali lagi kali ini dengan paku yang masih lumayan mulus, tapi
hasilnya tetap sama dengan yang pertama, penasaran, Heni ganti dengan obeng,
masih sama juga, diganti linggis, tidak juga tembus.
Akhirnya Heni menyerah,
ilmu santetnya ternyata sudah dicabut, karena nunggak bayaran semester, dalam
perjanjian di kampusnya, jika dalam waktu enam tahun tidak melunasi seluruh
tunggakan maka ilmu itu akan dicabut, sedangkan kalo dihitung rentang waktu
dari Heni lulus sampai sekarang sudah 18 tahun.
“Gimana
caranya biar gw ga malu” Heni mengernyitkan dahi, dia berpikir dan terus
berpikir, teringatlah dia pada empat orang muridnya yang pernah magang
dikantornya dulu, Dora, Iik, Qolby dan Putri.
Tanpa
pikir panjang dia langsung menghubungi keempat anak buahnya, Mereka sebenarnya
sudah malas berhubungan dengan “mantan” gurunya itu, karena ujung-ujungnya
pasti ga ngenakin, tapi karena merasa punya hutang jasa ketika Heni dulu
menyantet Dosen Pembimbing sehingga semuanya lulus dengan nilai diatas rata-rata.
Meski
dengan berat hati keempatnya menemui mantan gurunya itu, setelah menjelaskan
persoalan yang dihadapainya, Heni merasa tidak mungkin misi dijalankan dengan
jalan santet, misi harus dijalankan dengan jalan manual, maka disusunlah
rencananya.
Rencananya
sederhana, tinggal tancap paku ke ban motor Ari, beres. Untuk eksekutor Heni
menunjuk Dora dan Putri, sementara Iik dan Qolby kebagian tugs untuk
mengalihkan perhatian Satpam yang jaga di depan, setelah menghitung jam dan
hari baik maka ditentukan hari eksekusi Selasa wage, jam 20.00 WIB tidak kurang
tidak lebih.
Tapi
rencana dengan praktek dilapangan kadang berbalik 180 derajat. Meski rencana
sudah disusun begitu rapih, waktu eksekusi yang dijadwalkan jam 8 malem molor
sampe jam 12 malem, penyebabnya siapa lagi kalau bukan Iik, jam delapan dia
masih shopping di Mall, pulang dari Mall, mandi dan baru selesai mandi jam 11
malem, dandan, barulah jam 12 tim bergerak.
Begitu
tiba didepan Iik dan Qolby ngajak ngobrol satpam sambil bawa kopi dan goreng
singkong, sukses, perhatian satpam fokus pada goreng ubi dan kopi, sementara
Dora dan Putri bergegas menuju TKP, nah masalahnya disini, tiba-tiba dari arah
yang tak terduga datang Mbah (Lutfi) dengan motor antiknya, sontak keduanya
kaget, Putri berinisiatif mengalihkan perhatian Mbah biar Dora bisa segera
menjalankan eksekusi, Putri ngajak ngobrol sambil menggiring Mbah menjauhi TKP,
sayang namanya Mbah emang agak lambat gerakannya, sementara Dora sudah tidak bisa
konsentrasi (Untuk diketahui mata Dora hanya disetting bisa bertahan begadang
sampai jam 10 malem, lewat dari itu, maka bisa-bisa dia tidur sambil jalan),
sekuat tenaga dora menahan kantuk, begitu melihat Mbah sudah jauh dari TKP,
dengan sempoyongan, Dora menghampiri sasaran, posisi motor sasarannya sendiri
bersebelahan dengan motor Heni yang berwarna putih, dengan pandangan yang
berkunang-kunang, sudah tidak bisa membedakan mana biru mana putih,
Josss…..Dora berhasil menancapkan paku di ban motor, lalu dicabut lagi untuk
menghilangkan barang bukti, ban motor pun kempes seketika, akhirnya selesai juga
misi, pikir Dora. Dora lalu menghampiri teman-temannya, setelah agak jauh dari
Satpam ketiga temannya yang penasaran bertanya.
“Udah,
Dor?” Tanya Iik
“Dah
beres, ayo kita tidur, dah ga kuat gw” jawab Dora
“Yakin
lu ga salah sasaran?” Qolby sepertinya tidak yakin
“Nggaaa,
gw yakin, bener kok” Dora menjawab sambil menutup mulut karena nguap
“Ok…seeeppp,
misi kita selesai dan berhasil” timpal Putri
Pagi
harinya Heni terbangun, dia bersiap-siap untuk pulang ke kontrakan, udah
seminggu dia numpuk cucian, setelah mengemas barang dia bergegas ke parkiran
motor.
Tiba-tiba
terdengar jeritan kencang Heni dari arah parkiran, yang terdengerar hingga
radius 5 KM-an
“Anak
buah Sialaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!,
dari dulu kerjaannya ga ada yang beres”
Tangerang,
22 Mei 2013
|
Terinspirasi ketika
Eni kehilangan sepatu dan mengancam sayah akan mengempesi ban motor sayah,
disaat bersamaan malah ban motor Heni yang kempes
